Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Tampilkan postingan dengan label indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label indonesia. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 Desember 2009

tes 123

Hal-hal inilah yang menjadikan kaum migran biasanya lebih agresif, lebih gesit, dan lebih cekatan dalam menangkap peluang yang ada di tempat yang baru. Tantangan dan rasa kurang nyaman menyebabkan mereka harus selalu sigap dan mampu untuk mengubah berbagai kesulitan menjadi keuntungan di masa depan.

Tetapi jika kaum migran ini tidak memiliki visi yang kuat dan segera tenggelam pada kenyamanan yang mungkin ditemukan di tempat yang baru, maka mereka tidak akan mampu merespon berbagai tantangan yang ada dan akan mengabaikan berbagai peluang yang lewat di depan mata mereka.

Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam dan para sahabat yang berhijrah ke Madinah juga sempat merasakan ketidaknyamanan di tempat yang baru (Madinah). Abu Bakar al-Shiddiq dan Bilal bin Rabah radhiyallahu ’anhuma sempat sakit demam pada hari-hari awal mereka di Madinah karena keadaan di kota tersebut yang lebih panas dan karena kerinduan mereka pada Mekah. Tapi berkat doa Nabi, maka semua ketidaknyamanan itu berhasil mereka lalui dengan baik. Kaum Muslimin yang berasal dari Mekah memang merasakan ujian yang berat menjelang mereka keluar dari kota Mekah. Tapi ketika mereka berhijrah ke Madinah, maka ujian dan tantangan yang mereka terima bukannya makin ringan. Mereka menghadapi suasana geografis yang berbeda dengan tempat tinggalnya dulu, mereka pindah ke Madinah dalam keadaan tidak memiliki harta, masyarakat Madinah pada awalnya juga bersifat majemuk dan rentan terhadap konflik. Selain itu, mereka juga menghadapi ancaman serangan dari luar. Namun, dibawah arahan Nabi shallallahu ’alaihi wasallam mereka berhasil menyikapi semua tantangan tersebut dengan tepat. Sehingga mereka pada akhirnya keluar sebagai pemenang. Selengkapnya...

Hijrah: Dari Kejahilan Menuju Ilmu


Seorang Muslim juga perlu melakukan hijrah yang bersifat maknawi, berpindah dari kekufuran pada keimanan. Dari kejahilan kepada ilmu Oleh: Alwi Alatas*

Hidayatullah.com--Kita telah memasuki tahun baru Hijriah 1431. Setiap memasuki bulan Muharram kaum Muslimin selalu mengenang perjalanan hijrah yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam beserta para sahabatnya dari Mekah ke Madinah. Komunitas Muslim di Mekah ketika itu berada dalam keadaan tertindas dan terdzalimi, sehingga mereka tidak memiliki pilihan lain selain bermigrasi ke tempat yang baru, yaitu Madinah. Rasulullah sendiri berangkat dari Mekah bersama Abu Bakar al-Shiddiq di malam hari pada akhir bulan Safar tahun pertama Hijriah. Keduanya bersembunyi di gua Tsaur di Selatan Mekah selama tiga hari hingga tanggal 1 Rabiul Awwal. Setelah itu keduanya berangkat menuju Madinah hingga tiba di Quba (di Selatan Madinah) pada hari Senin, 8 Rabiul Awwal. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam membangun sebuah masjid di Quba’ dan menetap di wilayah tersebut selama empat hari. Barulah setelah itu beliau masuk ke Madinah dengan disambut oleh masyarakat kota tersebut. Ada banyak pelajaran yang terdapat di dalam kisah hijrah. Tulisan ini akan membahas beberapa hal penting terkait dengan fenomena hijrah.

Hijrah secara bahasa berarti perpindahan atau migrasi dari satu tempat ke tempat yang lain. Fenomena migrasi sebetulnya merupakan fenomena yang sangat tua dalam sejarah umat manusia. Sejak awal peradabannya selalu kita dapati sekelompok manusia yang melakukan perpindahan dari satu tempat ke tempat yang lain. Motif perpindahan manusia ini sangat beragam. Banyak orang yang memutuskan untuk bermigrasi karena dorongan ekonomi. Pada zaman dulu mereka berpindah dari satu wilayah yang kurang subur ke wilayah yang lebih subur. Pada masa-masa berikutnya, hingga sekarang ini, manusia berpindah dari satu negeri yang lemah pengelolaan ekonominya ke negara yang lebih menjanjikan secara ekonomi. Orang-orang China yang berpindah dan menetap di banyak negeri di dunia, juga mewakili motif ini.



Sekelompok manusia lainnya bermigrasi, atau terpaksa pindah, karena alasan-alasan politik. Kekaisaran Romawi kuno terkadang memindahkan suku-suku barbar tertentu ke tempat yang jauh dari pusat kekuasaan agar mereka tidak menjadi gangguan bagi pemerintah. Persoalan politik juga yang mendorong orang-orang Yahudi berdiaspora ke berbagai belahan dunia setelah al-Quds (Yerusalem) ditaklukkan oleh bangsa Romawi pada tahun 70-an Masehi. Pada masa sekarang ini kita mendapati sekelompok orang yang bermigrasi dalam rangka mencari suaka politik, seperti kaum komunis Indonesia yang menetap di BelAnda pasca gagalnya revolusi yang mereka lakukan pada tahun 1965.

Persoalan sosial, terutama konflik horizontal yang terjadi di antara suku-suku bangsa juga bisa menjadi motif migrasi. Inilah sebagian alasan mengapa, misalnya, suku-suku Bani Kahlan di Yaman melakukan migrasi ke Utara. Konflik mereka dengan Bani Himyar menjadi salah satu penyebabnya. Salah satu anggota Bani Kahlan, yaitu Tsa’labah bin Amr, berpindah ke Hijaz dan belakangan menetap di Yastrib (yang pada zaman Nabi berganti nama menjadi Madinah). Keturunan dari cucu-cucu Tsa’labah inilah, yaitu Bani Aus dan Khazraj, yang nantinya menyambut Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam dan para Muhajirin untuk tinggal di kota mereka.

Terkadang migrasi juga didorong oleh terjadinya bencana alam. Pada tahun 920-an Masehi kerajaan Mataram Kuno di bawah Mpu Sindok memindahkan pusat pemerintahannya dari Jawa Tengah ke Jawa Timur, kemungkinan besar dipicu oleh erupsi Gunung Merapi. Perpindahan pusat pemerintahan ini tentu saja diikuti oleh perpindahan masyarakat ke pusat pemerintahan yang baru. Pecahnya bendungan Ma’rib di Yaman pada tahun 450-451 Masehi merupakan contoh lain. Bencana tersebut menyebabkan kemunduran Yaman dan mendorong suku-suku yang ada di sana bercerai-berai dan berpindah tempat.

Terlalu banyak contoh untuk disebutkan disini. Yang jelas, banyak manusia telah melakukan migrasi pada berbagai kurun sejarah yang mereka lalui. Manusia telah ‘bergerak’ sejak permulaan eksistensinya sebagaimana bergeraknya tanah yang mereka pijak (lempeng benua).

Di samping motif-motif yang telah diterangkan di atas, ada segolongan manusia yang bermigrasi dengan motif berbeda. Mereka tidak berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain melainkan dengan dilAndasi iman kepada Allah. Mereka menjadikan Allah dan Rasul-Nya sebagai alasan utama dibalik perpindahan yang mereka lakukan. Inilah yang terjadi pada para Nabi dan orang-orang shalih sepanjang sejarah. Sebagian Nabi melakukan migrasi bersama para pengikutnya setelah penentangan kaum di tempat tinggal mereka memuncak dan Allah memutuskan untuk menghukum mereka. Kita juga mengetahui bagaimana Nabi Ibrahim ’alaihis salam memindahkan istri dan anaknya ke lembah Mekah yang kemudian mengawali sejarah kota tersebut. Kita juga membaca kisah Nabi Yusuf ’alaihis salam yang mengajak ayah dan saudara-saudaranya untuk bermigrasi ke Mesir. Lalu beberapa abad kemudian, ketika tekanan dari rezim Fir’aun yang baru telah menyebabkan Bani Israil jatuh dalam penindasan, Nabi Musa ’alaihis salam muncul dan memperjuangkan pemindahan umatnya dari Mesir ke Palestina.

Migrasi telah dilakukan baik oleh para Nabi dan orang-orang shalih maupun oleh kelompok masyarakat lainnya. Yang membedakan adalah motif utama mereka. Nabi shallallahu ’alaihi wasallam pernah bersabda tentang orang yang berhijrah dari Mekah ke Madinah karena perempuan yang disukainya. ”Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya .... Barangsiapa yang hijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu karena Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrah karena kesenangan dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Dua orang yang sama-sama bermigrasi belum tentu memiliki niat dan tujuan yang sama. Hasil yang akan diperoleh keduanya juga tentu akan berbeda.

Dari fisik menuju ilmu

Terlepas dari motif yang telah dijelaskan di atas, fenomena migrasi memiliki penjelasan lain yang juga menarik. Orang-orang yang bermigrasi, bagaimanapun juga, biasanya terpaksa meninggalkan keadaan yang cukup nyaman kepada keadaan yang kurang atau bahkan tidak nyaman. Orang yang berpindah ke tempat baru biasanya akan berhadapan dengan banyak tantangan yang lebih besar yang pada tingkat tertentu akan memberikan suasana tidak nyaman, setidaknya pada masa awal perpindahannya. Namun jika mereka berhasil merespon tantangan tersebut dengan baik, maka mereka akan muncul sebagai manusia dan masyarakat yang lebih baik dari sebelumnya.

Ketika berpindah ke tempat yang baru, mereka biasanya akan menghadapi iklim dan suasana geografis yang berbeda, berhadapan dengan komunitas dengan budaya dan tradisi yang berbeda. Hal ini tentu saja akan menimbulkan rasa tidak nyaman. Tetapi pada saat yang sama tempat yang baru juga menyajikan berbagai tantangan dan peluang yang mungkin tidak mereka dapati di tempat sebelumnya. Rasa tidak nyaman dan berbagai tantangan yang ada di tempat yang baru pada gilirannya akan mendorong seseorang untuk keluar dari sifat ’santai’ (idle) kepada karakter yang lebih gesit dan cekatan dalam memberikan respon. Kadang perpindahan ke tempat yang baru, ketika tidak diikuti dengan integrasi dengan masyarakat setempat, juga menciptakan rasa keterasingan (alienasi) yang jika direspon secara tepat akan mendorong seseorang untuk bersikap kompetitif dan sanggup bersaing dengan kelompok masyarakat di sekitarnya. Sebaliknya, jika terjadi proses integrasi yang baik, seperti pada kasus kaum Muhajirin dan Anshar, maka akan memunculkan semangat untuk saling tolong menolong dan saling menguatkan di antara para pendatang dan penduduk yang menerima mereka.

Hal-hal inilah yang menjadikan kaum migran biasanya lebih agresif, lebih gesit, dan lebih cekatan dalam menangkap peluang yang ada di tempat yang baru. Tantangan dan rasa kurang nyaman menyebabkan mereka harus selalu sigap dan mampu untuk mengubah berbagai kesulitan menjadi keuntungan di masa depan. Tetapi jika kaum migran ini tidak memiliki visi yang kuat dan segera tenggelam pada kenyamanan yang mungkin ditemukan di tempat yang baru, maka mereka tidak akan mampu merespon berbagai tantangan yang ada dan akan mengabaikan berbagai peluang yang lewat di depan mata mereka.

Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam dan para sahabat yang berhijrah ke Madinah juga sempat merasakan ketidaknyamanan di tempat yang baru (Madinah). Abu Bakar al-Shiddiq dan Bilal bin Rabah radhiyallahu ’anhuma sempat sakit demam pada hari-hari awal mereka di Madinah karena keadaan di kota tersebut yang lebih panas dan karena kerinduan mereka pada Mekah. Tapi berkat doa Nabi, maka semua ketidaknyamanan itu berhasil mereka lalui dengan baik. Kaum Muslimin yang berasal dari Mekah memang merasakan ujian yang berat menjelang mereka keluar dari kota Mekah. Tapi ketika mereka berhijrah ke Madinah, maka ujian dan tantangan yang mereka terima bukannya makin ringan. Mereka menghadapi suasana geografis yang berbeda dengan tempat tinggalnya dulu, mereka pindah ke Madinah dalam keadaan tidak memiliki harta, masyarakat Madinah pada awalnya juga bersifat majemuk dan rentan terhadap konflik. Selain itu, mereka juga menghadapi ancaman serangan dari luar. Namun, dibawah arahan Nabi shallallahu ’alaihi wasallam mereka berhasil menyikapi semua tantangan tersebut dengan tepat. Sehingga mereka pada akhirnya keluar sebagai pemenang.

Sebagaimana dijelaskan oleh Nabi shallallahu ’alaihi wasallam, sekarang ini sudah tidak ada lagi hijrah. Artinya, jika dulu kaum beriman diperintahkan bermigrasi dari Mekah ke Madinah dan mereka mendapat pahala untuk hijrahnya tersebut, maka setelah penaklukkan kota Mekah perpindahan semacam itu sudah tidak diperintahkan lagi. Hal ini agar orang tidak mengira bahwa migrasi merupakan hal yang wajib dalam agama, sehingga setiap manusia dari satu generasi ke generasi lain akan selalu melakukan hijrah kendati tuntutan untuk itu sama sekali tidak ada. Walaupun demikian, hal ini sama sekali tidak menafikan bahwa pada waktu-waktu tertentu ada sekelompok kaum Muslimin yang melakukan migrasi. Yang paling penting untuk mereka perhatikan dalam hal ini adalah niat yang baik dalam proses migrasi mereka serta kesiapan dan kegigihan mereka untuk berjuang di tempat yang baru. Dengan begitu, mereka akan mampu tampil ke muka sebagai problem solver bagi persoalan-persoalan yang ada.

Di samping hijrah secara fisik (migrasi), tentu saja masih ada hijrah dalam bentuk yang lain, yaitu hijrah secara maknawi. Hal ini telah banyak dijelaskan oleh para ulama dan pemikir Muslim kontemporer. Seorang Muslim juga perlu melakukan hijrah yang bersifat maknawi dalam kehidupannya ini, yaitu berpindah dari kekufuran pada keimanan, dari kejahilan kepada ilmu, dari akhlak yang buruk kepada akhlakul karimah.

Perpindahan yang bersifat maknawi ini juga akan melibatkan rasa tidak nyaman pada prosesnya. Seseorang mungkin merasa nyaman dengan perilaku maksiyat, akhlak yang buruk, serta kebiasaan jahil yang dimilikinya. Nyaman, karena semua itu sejalan dengan hawa nafsunya dan tidak memerlukan pengorbanan diri, walaupun konsekuensinya adalah hilangnya kenyamanan dalam bentuk yang lain. Orang yang tenggelam dalam hawa nafsunya pada akhirnya akan merasakan kekosongan jiwa dan hukuman yang berat di akhirat. Itu adalah bentuk ketidaknyamanan yang jauh lebih serius.

Sebaliknya, sebagian orang memaksa dirinya untuk berpindah kepada ilmu dengan belajar; kepada keimanan dengan terus mendekatkan diri pada Allah; pada akhlak karimah dengan selalu membiasakan diri dengan perilaku yang baik. Proses ini tentu melibatkan perasaan tidak nyaman, setidaknya pada awal prosesnya, karena semua itu menuntut pengorbanan. Perubahan dari keadaan yang tidak baik pada keadaan yang baik juga akan memberikan berbagai tantangan yang tidak mudah. Namun, pada akhirnya semua itu akan tergantikan dengan kenyamanan yang jauh lebih besar dan langgeng, yaitu kemuliaan diri dan ketenangan jiwa serta keridhaan Allah dan surga-Nya.

Semoga dengan tahun baru 1431 Hijriah ini kita bisa menguatkan komitmen kita, pada tingkat individu maupun masyarakat, untuk berhijrah menuju ke kedudukan yang lebih baik di sisi Allah. [Kuala Lumpur, 3 Muharram 1431/20 Desember 2009/www.hidayatullah.com]
Penulis sedang mengambil program doktoral bidang sejarah di di Universiti Islam Antarabangsa, Malaysia Selengkapnya...

Selasa, 12 Mei 2009

PKS Inginkan Keterwakilan Umat dalam Pemerintah Yudhoyono (???)

JAKARTA (Arrahmah.com) - Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Tifatul Sembiring mengatakan, Cawapres PKS menginginkan adanya keterwakilan Ummat dalam Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

"Untuk Cawapres PKS menginginkan adanya keterwakilan ummat dalam pemerintahan SBY ini," kata Tifatul dalam pesan singkatnya yang diterima di Jakarta, Senin (11/5) malam.

Dahulu kombinasi Nasionalis-Islamis relatif stabil, seperti saat Abdurrahman Wahid (Gus Dur) berpasangan dengan Megawati atau Megawati berpasangan dengan Hamzah Haz.

"Dan ketika SBY dengan Jusuf Kalla (JK), maka JK dipandang sebagai perwakilan ummat," ujar Sembiring.

Dia menambahkan, Cawapres sebaiknya diambil dari partai politik, maka mesin partai akan berjalan optimal.

Menurut Presiden PKS, keterwakilan wilayah Jawa dengan luar Jawa patut dipertimbangkan.

Terkait dengan koalisi antar parpol, PKS tetap membuka diri untuk berkoalisi dengan partai manapun, yang memiliki visi yang sama untuk membangun dan memajukan Jakarta.

"Selama tuntutannya adalah agar kita sama-sama membangun Jakarta, PKS setuju 100 persen. Mari kita bersatu membangun Jakarte, tapi kalau mintanya duit, kaga ade," ujarnya.

Sebelumnya, menanggapi adanya pertemuan antara Tim 5 PKS dengan Tim 9 dari Partai Demokrat (PD) di Jakarta, Senin (20/4).

Menurut Tifatul, pertemuan dengan Tim 9 PD merupakan bagian dari komunikasi politik yang dijalankan partai terhadap semua parpol peserta pemilu.

"Belum ada tanda tangan resmi koalisi atau kesepakatan tertulis apa pun," ujar Tifatul.

Dia menjelaskan, sidang majelis syuro adalah forum musyarawah tertinggi dalam partai sebagai sarana mengambil keputusan strategis kepartaian.

Sidang majelis syuro terdiri dari 99 orang anggota yang merupakan perwakilan dari 33 provinsi yang ada di Indonesia.

"Majelis syurolah nanti yang memutuskan sikap partai untuk koalisi, capres/cawapres, dan lain-lain. Putusan ini wajib dijalankan pengurus DPP," jelas Tifatul.

Kendati demikian, Tifatul melanjutkan, pertemuan dengan Tim 9 PD bukan pula diartikan sebagai pertemuan tanpa makna.

Pertemuan yang mendiskusikan pandangan politik PKS dan PD lebih menitikberatkan pada pembentukan pemerintahan yang kuat di masa mendatang.

"Paling tidak lima tahun ke depan." Bagi PKS, pemerintahan yang kuat adalah pemerintahan yang dikendalikan sepenuhnya oleh presiden dengan tujuan-tujuan politik untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat serta optimalisasi terhadap pelayanan publik.

"Konstitusi merujuk pada pemerintahan presidensiil, artinya kekuasaan mutlak berada di tangan presiden. Para pembantu kerja presiden tentu harus memahami prinsip ini, termasuk menteri dan wapres," papar Tifatul.

Dia melanjutkan, prinsip-prinsip yang harus dipenuhi untuk menguatkan sistem pemerintahan presidensiil menjadi proposal utama PKS dalam menjalin komunikasi dengan parpol lain.

PKS tidak berada pada posisi menawar-nawarkan kandidat cawapres atau figur-figur calon menteri yang akan duduk di kabinet. "PKS tak ingin terjebak dalam praktik politik bagi-bagi kekuasaan," tandas Tifatul. (Althaf/antara/arrahmah.com) Selengkapnya...

Jumat, 08 Mei 2009

SBY dan NEO LIBERAL

Teka-teki hampir terpecahkan. Siapa yang dipilih Presiden SBY menjadi pendampingnya, sebagai cawapres pada pemilu Juli nanti. Dari berbagai media yang ada di Jakarta, dan mengutip pernyataan Ahmad Mubarok, salah seorang Ketua Partai Demokrat, kecenderungannya, Presiden SBY akan memilih calon cawapres, yang bukan dari partai poliltik. Nama yang sudah mengerucut, berdasarkan penuturan Ahmad Mubarak, tak lain, adalah Gubernur BI, Budiono.

Budiono adalah ekonom, yang sudah beberapa kali masuk pemerintahan, sejak zamannya Presiden Megawati menjadi Menkeu, dan di zamannya Presiden SBY menjadi Menko Ekuin, dan selanjutnya menjadi Gubernur BI, menggantikan Burhanuddin Abdullah, yang dipenjara akibat korupsi.

Budiono alumni Universitas Gajah Mada, orangnya ‘low profile’, tak banyak berbicara, tapi di zaman Mega dinilai ‘sukses’, menghadapi krisis ekonomi, kala itu. Sebuah Koran di AS, menjuluki Budiono, sebagai ‘the silent voice’, yang tidak banyak dipublikasikan, tapi berhasil menyelamatkan ekonomi Indonesia.

Asumsinya, jika SBY memilih kalangan professional, dan pilihannya adalah Budiono, hanya memperlihatkan konsistensi pengaruh kelompok Neo-Lib, di Indonesia semakin kuat. Bagaimana di zaman partai-partai politik ini, SBY memilih kalangan professional yang non ‘partisan’, kalau tidak memiliki dukungan politik yang kuat, sangatlah tidak masuk akal.

Memang, SBY sudah kedua kalinya menaiki kekuasaan, dan tidak mungkin ketiga kalinya, berdasarkan konstitusi yang ada, karena adanya pembatasan jabatan, yang dia bisa tidak ambil peduli dengan partai-partai politik. Pilihan terhadap Budiono, menandakan betapa kuatnya pengaruh dan dukungan kelompok yang dibelakangnya adalah kepentingan AS.

Prediksi masa depan pasca pemilihan presiden Juli nanti, kalau Presiden SBY terpilih kembali, jajaran kabinet yang menangani ekonomi, sudah dapat dibaca dari sekarang. Posisi yang menangani ekuin, yang sekarang ini tidak akan berubah.

Sri Mulyani akan menjadi Menko Ekuin, dan kemungkinannya yang menjadi Menkeu, Anggito Abimanyu. Anggito, sudah menjadi Kepala Kebijakan Fiskal Depkeu, sejak zamannya Presiden Habibi, dan yang menjadi Menkeu adalah Bambang Sudibyo. Kemudian, berlanjut jamannya Gus Dur, Presiden Megawati, dan di zamannya Presiden SBY, yang Menko Ekuinnya Budiono, Anggito juga menjadi Kepala Kebijakan Fiskal, serta sampai Menkeunya Sri Mulyani.

Maka, lima tahun ke depan, pengaruh kelompok Neo-Lib, yang kebijakan ekonominya lebih pro-Bartat, di dalam kekuasaan Indonesia semakin kuat. Artinya, pengaruh Barat dan Lembaga Multilateral seperti IMF terhadap Indonesia akan mempunyai tempatnya. Pilihan kebijakan ekonominya yang lebih pro-pasar, atau menganut sistem ekonomi pasar, dan yang lebih berorientasi pada kebijakan ekonomi makro.

Tentu, yang tak kalah pentingnya, penguasaan atas SDA (sumber daya alam) Indonesia, termasuk asset BMUN, yang masuk dalam daftar penjualan. Dan, apakah tokoh-tokoh yang dipilih akan menjadi solusi atas krisis yang sekarang dihadapi oleh Indonesia? Tidak pasti. Apalagi, krisis ekonomi global, belum menampakkan tanda-tanda akan berakhir.

Tapi, di jajaran orang yang ada di sekitar Presiden SBY, bukan hanya di sektor ekonomi yang mempunyai pengaruh terhadap Presiden SBY, tapi juga ada yang disebut sebagai ‘American Boys’, cukup nampak. Seperti Andi Mallarangeng, Rizal Mallarangeng, Dino Patti Jalal, yang akan banyak mempengaruhi kebijakan politik dan luar negeri Indonesia.

Partai-partai politik yang sudah memberikan dukungan kepada Presiden SBY, melalui 'koalisi' hanyalah akan menjadi faktor ‘komplementer’ (pelengkap), dan tidak akan mempunyai arti apa-apa, dan atas dukungan yang mereka berikan, dan akan dibarter dengan ‘kursi’ (portofolio) di kabinet yang akan datang.

Mereka akan senang hati menjadi stempel ‘rubber stamp’ atas kebijakan-kebijakan pemerintah SBY yang lebih cenderung pro-Barat. Ini adalah kelanjutan yang panjang sejak zamannya Soeharto, yang pro-Barat, dan sekarang dilanjutkan oleh Presiden berikutnya, yaitu SBY. Wallahu ‘alam (eramuslim) Selengkapnya...

Mengintip Gaya Hidup Aktivis Islam Liberal

Hidayatullah.com--Wacana seputar sekularisme, pluralisme, liberalisme (Sipilis), juga demokratisasi dan hak asasi manusia (HAM) mengalir deras dari mulutnya. Semua itu disajikan dengan penuh pesona di berbagai forum, mulai diskusi kecil sampai workshop berskala besar, dari media cetak sampai elektronik.

Itulah yang dilakukan sekelompok aktivis yang menamakan dirinya Jaringan Islam Liberal (JIL). Dengan dukungan dana milyaran rupiah dari donatur asing, antara lain the Asia Foundation, mereka tak pernah henti menjajakan ide-idenya yang kontroversial.

Ide dan wacana yang dilontarkan mereka kadang terdengar indah dan menarik. Itulah sebabnya sebagian kaum Muslimin terpesona dibuatnya. Namun, apakah kehidupan kesehariannya juga seindah apa yang dikatakannya? Apakah ilmu yang mereka kuasai juga tercermin dalam amal yang dilakukannya?

Simak Cover Story kali ini yang berusaha “mengintip” keseharian para aktivis JIL. Karena keterbatasan halaman, tentu saja tak semua aktivis bisa tertulis di sini. Hanya beberapa nama dengan karakter masing-masing sesuai ide dan wacana yang kerap dilontarkannya selama ini.

Mereka adalah Siti Musdah Mulia, Nong Darol Mahmada (Manajer Program Freedom Institute, motor penggerak JIL), dan Hamid Basyaib (koordinator sementara JIL). Di bagian akhir, ada laporan pandangan mata tentang Komunitas Utan Kayu, markas utama para aktivis tersebut. Selamat membaca. [] Selengkapnya...

INDONESIA KEARAH YANG ISLAMI

Type your summary here

Type rest of the post here

JAKARTA (Arrahmah.com) - Krisis finansial global dapat disebabkan oleh empat sebab, yakni ekonomi, politik sosial, perang, dan alam. Krisis seperti ini diperkirakan masih akan berlangsung lama. Bagi Bangsa Indonesia, tak hanya bergulat melawan krisis, kita juga menghadapi momentum krusial Pemilihan Umum (Pemilu).

Tapi masalah seperti krisis itu ada yang lebih mengkhawatirkan, yakni upaya Indonesia ke arah politik yang lebih “islami’ dalam kurun waktu 5 sampai 25 tahun mendatang. Itulah salah satu kekhawatiran pakar asing dari Northwestern University, Prof. Jeffrey A. Winters , dalam acara diskusi beberapa waktu lalu (22/4) dengan tema: “Krisis dan Pemilu: Upaya Mencari Jalan Keluar”, bertempat di Gedung Yustinus, Unika Atma Jaya, Jakarta.

Acara yang diselenggarakan Centre for Creative Economic Studies, Universitas Kristen Atma Jaya itu selain menghadirkan Prof. Jeffrey A. Winters, juga menghadirkan Dr. A.Prasetyantoko dari Centre for Creative Economic Studies Universitas Atma Jaya, dengan fokus ”Krisis finansial dalam perspektif ekonomi heterodoks”.

Secara umum Jeffrey menyebutkan, mentalitas bangsa Indonesia masih berpegang erat pada mentalitas 7 persen, yang merasa puas apabila tingkat GDP yang diperoleh dapat mencapai angka 7 persen. Padahal, menurut ia, angka 7 persen tersebut hanya cukup untuk mempertahankan status quo dan masih kurang untuk dapat memberikan ruang bagi upaya pertumbuhan dan perkembangan, yang setidaknya baru dapat dicapai apabila pemerintah berani menetapkan “double digit growth (DDG)” sebesar 10 persen.

Lebih lanjut diuraikannya, jika Indonesia masih mempertahankan mentalitas 7 persen, maka permanent poverty di Indonesia akan menjadi mimpi buruk yang menjadi kenyataan di bangsa ini.

Dilihat dari situasi politik di Indonesia yang saat ini tengah disibukkan oleh pemilu, baik legislatif maupun pilpres, Jeffrey berpendapat bahwa faktor uang dinilai masih merupakan faktor penting, dibandingkan aliansi dalam pemilu saat ini.

Winter menilai, perlu ada suatu gerakan bersama yang kuat untuk dapat menghadapi masalah. Menurut ia, gerakan saat ini yang jelas terlihat, dan bahkan mampu masuk ke grassroot, dalam upaya mencoba menjawab masalah yang ada di Indonesia, lebih bernuansa “islami”.

“Jika gerakan tersebut berhasil, maka justru akan mengancam pluralisme di Indonesia,” ujarnya.

Winters menuduh, ada yang ingin membuat Indonesia menjadi “negara Islam”. Fenomena inilah yang saat ini tengah terjadi di Indonesia.

Ia mengatakan bahwa dirinya mengatakan hal tersebut bukan mendasarkan pada pandangan agama, tetapi lebih kepada pluralisme, mengingat Indonesia merupakan negara majemuk.

Indonesia merupakan satu dari tiga negara di dunia, seperti India dan Amerika Serikat yang bereksperimen dengan pluralisme, baik dari agama, suku, dan budayanya. Terdapat masyarakat yang berbeda dalam satu negara. Pertanyaannya adalah, apakah masyarakat yang berbeda tersebut dapat tinggal bersama dalam satu negara.

Dalam akhir penuturannya, Winters menilai, Indonesia merupakan negara yang memiliki pengalaman yang hebat dalam hal kemajemukan penduduknya, dan berharap agar Indonesia dapat mempertahankan pluralisme yang ada di negara ini. (Althaf/hidayatullah/arrahmah.com) Selengkapnya...

Konsumsi Narkoba Indonesia 2008 Rp 15,37 Triliun

indonesia sayang indonesia malang
JAKARTA (Arrahmah.com) - Kerugian ekonomi yang ditimbulkan dari komsumsi narkoba di Indonesia sepanjang 2008 mencapai Rp15,37 triliun, kata Koordinator Satgas I Badan Narkotika Nasional (BNN) KBP H Thamrin Dahlan.

"Berdasarkan data BBN itu, dari total kerugian ekonomi akibat penyalahgunaan narkoba, jenis shabu yang paling tinggi komsumsinya dengan kerugian Rp 5,52 triliun," kata Koordinator Satgas I BNN di Jakarta, Jumat (8/5).


Dijelaskan, selain jenis narkoba shabu yang paling banyak menimbulkan kerugian ekonomi dari 33 provinsi di Indonesia, jenis ganja tercatat menimbulkan kerugian ekonomi terbesar kedua yakni Rp 2,37 triliun, menyusul putau bubuk Rp 2,31 triliun dan ekstasi Rp1,98 triliun dari 14 jenis narkoba yang terdata pada BNN.

Sementara daerah yang tertinggi kerugian ekonominya akibat komsumsi narkoba adalah Jawa Timur dengan jumlah kerugian sebanyak Rp3,85 triliun, kemudian Jawa Tengah Rp 1,25 triliun dan DKI Jakarta Rp1,15 triliun.

"Kerugian ekonomi yang ditimbukan dari komsumsi narkoba itu cenderung meningkat setiap tahun, sementara pendanaan pemerintah untuk uapaya peventif dan rehabilitasi yang tersedia sangat terbatas," kata Thamrin.

Terkait dengan hal itu, ia mengharapkan peran aktif masyarakat untuk membantu upaya tersebut, baik melalui lembaga formal maupun non formal.

Adapun proyeksi kerugian ekonomi akibat penyalahgunaan narkoba berdasarkan data BNN adalah 2009 akan mencapai Rp 37 triliun, 2010 Rp 41,24 triliun, 2011 Rp 46 triliun, 2012 51,29 triliun dan 2013 Rp 57 triliun.

Di samping itu, sebanyak 51 ribu orang pecandu narkoba di Indonesia meninggal setiap tahunnya. Menurut Thamrin, sebagian korban penyalahgunaan narkoba meninggal bukan di lokasi fasilitas terapi dan rehabilitas. Mereka justru ditemukan di jalan atau di lokasi tempat hiburan.

"Umumnya mereka meninggal karena penyakit komplikasi yakni HIV/AIDS, hepatitis dan TBC," katanya.

“Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi. Katakanlah pada keduanya terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia. Tetapi dosanya lebih besar dari manfaatnya. (QS: Al Baqarah [2]:219).

“Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit dan kami akan menghimpunnya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thaha [20]:123-124).
(Althaf/arrahmah.com)
Selengkapnya...